|
Mengelimir Frekuensi Perceraian |
|
|
Dimuat Oleh Fadlillah Mubarak
|
|
Sabtu, 09 Februari 2008 |
Oleh
Hasrat untuk membangun biduk rumah tangga yang harmonis tanpa dilandasi oleh orientasi perkawinan yang jelas dan sikap saling menghargai antara pasangan suami-isteri (pasutri), ibarat menegakkan benang yang basah. Sulit diwujudkan. Mohammad Fauzil Adhim (2002) menengarai bahwa semakin jamak rumah tangga yang nyaris tak terselamatkan lantaran niatnya berantakan dan mengalami dis-orientasi, sehingga rumah tidak lagi memberikan keteduhan jiwa bagi penghuninya. Oleh karena itu, suami yang memiliki kelebihan tertentu, sepantasnya digunakan untuk menutupi kelemahan isteri, bukan melecehkannya hingga berujung pada perceraian. Sebaliknya, istri yang shalehah tidak cukup dipandang dari kepiawaiannya dalam memilih pasangan. Sebab, kesempurnaan itu terletak pada kerelaan hati untuk menerima kekurangan. Salah satu cara untuk mendapatkan pendamping yang ultimate perfection adalah menerima apa adanya. |
ARTIKEL SELENGKAPNYA, DALAM VERSI PDF, KLIK DISINI ATAU KLIK JUDUL DI ATAS
|